Konkurs Seni Suara Burung Alam Perkutut bertema Pengda Cup Pekanbaru, benar-benar menjadi ajang pemersatu yang ada di Sumatera dan kota lain. Betapa tidak, even yang digelar pada Minggu, 26 Oktober 2025 di lapangan Lancang Kuning Sport Center di Jalan Taman Karya no.58 Panam diramaikan oleh kehadiran peserta dasi berbagai kota, berbagai provinsi.

“Alhamdulillah kegiatan kami diikuti oleh peserta dasi Batam Kepri, Pasang, Medan, Jambi, Payakumbuh dan berbagai kota lain,” terang Nur Alamsyah, Ketua Pengda Pekanbaru. Lebih lanjut disampaikan bahwa untuk bisa mencapai Pekanbaru, ada peserta yang harus menghabiskan waktu belasan jam agar bisa sampai.
“Peserta dari Medan yang akan lomba ke Pekanbaru harus menempuh perjalanan darat selama 16 jam. Belum lagi kalau misalnya ada masalah di tengah jalan, maka waktu yang dibutuhkan lebih lama lagi,” ungkap Nur Alamsyah. Kehadiran peserta dasi berbagai kota seakan menjadi moment kebangkitan hobi perkutut di Pekanbaru.

Menurut informasi Nur Alamsyah, sejak covid menyerang beberapa tahun lalu, hobi perkutut di daerah tersebut terkena dampak. Kondisi itu bertahan dalam jangka waktu lama. Lambat laun, upaya untuk memulihkan hobi perkutut yang terdampak mulai memberikan harapan. Konkurs yang rutin tergelar menjadi salah satu upaya yang diajukan.
“Dengan adanya kegiatan ini, kami berharap agar hobi perkutut bisa eksis lagi dan bisa mengangkat hobi burung yang sempat lesu akibat covid,” sambung Ketua Pengda Pekanbaru. Disampaikan juga bahwa gelaran kali ini, antusias peserta lebih tinggi jika dibandingkan dengan even sebelumnya.

Hal ini disebabkan oleh usaha kung mania di Pekanbaru untuk selalu mendukung setiap kegiatan yang ada di Pulau Sumatera dan juga daerah lain. Hal ini dibenarkan Antony, Ketua Pelaksana. “Selama ini kami rutin lomba di berbagai kota, baik di daerah sendiri ataupun di luar daerah, makanya ketika kami ada kegiatan, mereka ikut memberikan dukungan,” tegas Antoni.
Kebersamaan dan kekompakan inilah yang menjadi salah satu faktor mengapa jumlah peserta Konkurs Pengda Cup Pekanbaru kali ini mendapatkan support dari peserta dengan jumlah yang lebih besar. Keberhasilan panitia mendatang peserta banyak, berbanding terbalik dengan upaya untuk mengangkat pamor perkutut usia muda.

Menurut pengakuan Nur Alamsyah, untuk saat ini perkutut usia muda (Piyik Hanging), belum bisa dibuka karena peminatnya tidak ada. U tuk itukah Pengcam Cup Pekanbaru tidak membuat kelas tersebut. “Peminat untuk Kelas Piyik Hanging disini tidak ada, makanya kami tidak membuka kelas tersebut.byabg ada hanya Kelas Dewasa Senior, Dewasa Yunior dan Piyik Yunior,” tambah Nur Alamsyah lagi.
Salah satu faktor kenapa Kelas Piyik Hanging tidak ada peminat, karena jarak tempuh peserta yang begitu jauh, sehingga membuka peluang keselamatan burung yang mereka bawa. Mereka mengaku takut mati ketika membawa burung usia muda dalam perjalan jauh. Ada yang menarik dari kegiatan kali ini.

Panitia memberikan tambahan hadiah untuk peraih juara pertam di masing-masing kelas. Selain mendapatkan trophy dan piagam, peraih podium pertama berhak atas tambahan hadiah bingkisan.
Hadiah tersebut dipersembahkan oleh Antoni selaku Ketua Pelaksana. “Saya memberikan hadiah tambahan untuk peserta yang meraih juara pertama disemua kelas sebagai bentuk apresiasi atas prestasi yang sudah mereka capai. Karena untuk bisa juara pertama, dibutuhkan perjuangan yang luar biasa,” ungkap Antoni.

Artinya bahwa bingkisan yang diberikan adalah bentuk penghargaan atas upaya dan usaha sehingga burung orbitannya bisa meraih juara pertama. Diinformasikan juga bahwa ada bonus untuk pendatfar dengan jumlah 6 tiket dan 10 tiket. “Peserta yang mendaftar sebanyak 6 tiket, maka akan dapat bonus 1 tiket dan pendaftar dengan jumlah 10 tiket, maka dapat bonus 2 tiket,” ungkap Nur Alamsyah.
Carai ini dilakukan untuk menarik minat peserta agar bisa mendaftarkan burung orbitannya dala, jumlah yang relative banyak, sehingga pelaksanaan bisa sesuai harapan. Sementara itu dari dalam arena diinformasikan bahwa pelaksanaan acara berlangsung seru dan lancar. Cuaca cerah mengawal kegiatan ran pertama sampai akhir.

Empat babak penjurian berlangsung aman dan tanpa masalah. Sampai akhirnya penobatan juara diumumkan. Untuk peraih podium pertama dan kedua Kelas Dewasa Senior, berhasil diboyong Herman Padang, lewat aksi Krisna produk Win’s yang dikerek pada nomor 77 dan Raden Wijaya ternakan Mutiara Paksi yang dikerek pada nomor 95.
Ditempat ketiga ada Purta Kadir andalan H.Defian Medan produk ternak Cakrawala yang beada di nomor kerekan 75. Untuk Kelas Dewasa Yunior, podium pertama berhasil menjadi milik Hoki, amunisi Aan Rengat ring SPA yang dikerek pada nomor 05, menyusul pada urutan kedua Cafit andalan King King Batam, produk ET yang dikerek pada nomor 27.

Dan tempat ketiga diraih Isabella orbitan R.Denri Pekanbaru ternakan AZS yang dikerek pada nomo 07. Di Kelas Piyik Yunior, juara pertama diraih oleh Den Siko amunisi Imparizal Pekanbaru, ternakan Wina yang dikerek pada nomor 37. Menyusul pada urutan kedua, Danau Raja andalan Aan Rengat, produk Long Champ yang dikerek pada nomor 09.
Dan tempat ketiga dimenangkan Jo orbitan Edi Pekanbaru ring Rudi yang berada di nomor kerekan 42. Antoni, kung mania tuan rumah yang biasanya menguasai arena kali ini tampil tanpa predikat podium juara. Pasalnya burung yang dikerek merupakan amunisi baru, sedangkan amunisi lama sengaj tidak dikeluarkan.

“Hari ini saya membawa amunisi baru, semua dari peternak Ostama Bali, kebetulan baru datang, jadi burung tidak bisa tampil sesuai harapan. Sedangkan burung saya yang selalu juara, memang tidak diturunkan,” ungkap Antoni. Bahkan saat ini ring Ostama Bali lagi menjadi primadona untuk kung mania di Pekanbaru.
“Saat ini banyak ring Ostama yang dimiliki teman-teman di Pekanbaru, termasuk saya. Namun karena masih baru datang, jadi burung belum bisa tampil bagus, namun saya yakin ke depan akan bisa bersaing dengan yang lain,” ungkap Antoni lagi.















