Gelaran Latihan Dinilai Inter Galaxi Gresik yang dihelat pada Minggu 30 November 2025 menjadi moment dan pembuktian Viral, amunisi Eka Paksi Surabaya sebagai perkutut yang layak untuk diperhitungkan. Namanya memang tidak sepopuler jawara lain, maklumlah perkutut yang lahir dari kandang Pakard K.28 baru merasakan keberhasilan menumbangkan lawan.

Turun di Kelas Piyik Yunior, perkutut ternakan Pakard Bird Farm Surabaya berhasil menjadi yang terbaik pertama. Kemenangan ini berkat raihan bendera tiga warna selama tiga babak dan bendera dua warna hitam satu babak. Eka Paksi mengaku bahwa keberhasilan Viral menjadi yang terbaik diharapkan bisa memberikan semangat pada rekan-rekan yang selama ini berjuang dalam mencapai puncak prestasi.

“Semoga prestasi bagus Viral bisa memberikan inspirasi dan penyemangat teman-teman yang lain untuk meraih hasil yang sama. Kita maju bersama dan meraih hasil yang bagus pula,” harap Eka Paksi. Lebih lanjut disampaikan bahwa potensi bagus yang dimiliki Viral sebenarnya sudah terdeteksi sejak usia masih dalam hitungan piyik.

“Viral sebenarnya sudah terdeteksi bagus dan menjadi burung masa depan sejak masih Piyik, makanya kami sering menurunkan dibeberapa lomba. Namun sayang belum mau tampil,” ungkap putra dari Profesor Suyono, pemilik Pakard Bird Farm sekaligus Ketua Paguyuban Penyayang Perkutut Sawunggaling Surabaya,
Selama itu pula Viral surah merasakan bagaimana ketatnya persaingan perebutan podium juara. Namun performa yang tidak pernah on fire membuat Viral selalu gagal dalam mengeksekusi podium juara. Dari satu gelaran menuju gelaran lain, perkutut anakan ketiga ini belum mampu tampil maksimal untuk menuju posisi juara.

“Secara kualitas burung ini bagus dan memiliki kualitas untuk dilombakan, tapi syarat bunyi belum bisa didapat, makanya tidak pernah juara,” jelas Tarjo salah satu anggota paguyuban tersebut. Keterbatasan waktu yang dimiliki Profesor Suyono D.Prawiro dan juga Eka Paksi membuat Viral tak pernah mendapatkan perhatian dan perawatan secara maksimal.
“Selama ini Viral kami ikutkan lomba, meski tampil bagus tapi syarat bunyi tidak memenuhi sehingga juara belum bisa kamu dapat,” sambung kung mania yang pernah terlihat dalam mengorbitkan Jacko perkutut legendaris tanah air. Sampai akhirnya ketika moment kebangkitan Viral datang, langsung memperlihatkan kualitasnya.

Diceritakan oleh Eka Paksi dan juga Tarjo bahwa awal dari prestasi tersebut dimulai saat Viral dijodohkan oleh betina. Ternyata sang betina dihajar habis-habisan sampai berdarah di bagian punggung. Melihat pemandangan seperti itu muncul prediksi bahwa birahi Viral muncul. Tanpa sia-sia, akhirnya diberangkatkan menuju Gresik dalam sebuah gelaran.
Siapa sangka, Viral mau tampil meski belum 100 persen. Namun setidaknya, podium juara sudah menyatakan bahwa burung ini memang memiliki kans yang kuat untuk berdiri di barisan paling depan daftar kejuaraan. Setidaknya pula bahwa Viral adalah produk Pakard Bird Farm dengan formasi indukan ring sendiri yang Pakard x Pakard.

Sayang sekali, indukan jantan dari Viral sudah mati. “Viral adalah anakan pertama dari tiga tetasan, indukan jantan Viral sudah mati, sekarang saya jodohkan dengan saudara bapaknya,” urai Eka Paksi. Sedangkan untuk tetasan kedua dan ketiga, semua berjenis betina.
Untuk merayakan rasa syukur atas prestasi tersebut, Profesor Suyono mengundang beberapa anggota paguyuban untuk latihan bareng. Di acara tersebut juga dilakukan makan bersama dengan menu sate dan gule kambing.

Disela-sela acara, Khoirul Anwar Ketua P3SI Pengda Surabaya berpesan bahwa sekali layar terkembang, surut kita berpantang. Sekali kita berjuang, surut untuk mundur meski selangkah. Rawe-rawe rantas, malang-malang putung.














