Prestasi menjulang yang dicapai perkutut Paku Alam, amunisi H.Fahmi kung mania Pamekasan Madura dan Revolusi yang pernah berada di tangan JBM Squad Malang dan kini ada di WAT Tasik, menjadi inspirasi dan penyemangat Abah Efendi sang pemilik farm untuk terus fokus mengembangkan ternak yang kini berjumlah sebanyak 70 kandang.

Dari kedua nama besar inilah, Naora Bird Farm sibuk menjadikan perkutut yang masih memiliki trah keduanya untuk tidak dilepas terlebih dahulu dengan alasan, ingin menjadikannya sebagai bahan pengembangan di kandang ternak. Mulai adik, keponakan dan cucu, semua produk yang masih mengalir trah Paku Alam dan Revolusi sengaja untuk tidak dibiarkan pergi dari markas Naora.
“Selama ini trah Paku Alam dan Revolusi saya buat pengembangan kandang ternak, jadi saya mohon ma’af apabila rekan-rekan belum bisa memiliki trah tersebut,” terang kung mania yang kini sudah memasuki usia 58 tahun. Alasan untuk menjadikannya kedua trah ini sebagai materi indukan di kandang Naora karena selain prestasi yang sudah dibukukan begitu luar biasa, karena kualitas yang dimiliki sudah terbukti, mental yang menyertainya juga tidak kalah hebatnya.

“Trah Paku Alam dan Revolusi, selain punya kualitas bagus, mental juga tidak kalah bagusnya, makanya saya langsung putuskan untuk jadi indukan di kandang Naora,” ungkap Abah Efendi. Paku Alam sendiri lahir dari kandang Naora 29 dengan formasi indukan Naora K.37 dengan pasangannya Naora K.46. Sedangkan Revolusi lahir dari kandang Naora K.25 dengan formasi indukan jantan HIN dan betina JBM.

Diakui bahwa selama ini pula kedua trah ini memang tidak lagi bisa dilepas ke pasaran karena dijadikan pengembangan. Jika ada anakan bagus dan cocok untuk materi kandang, maka langsung masuk barisan sebagai calon indukan. “Saat ini materi indukan di kandang Naora kebanyak baru hasil pengembangan dari anakan trah Paku Alam dan Revolusi.

Seiring proses pengembangan ternak Naora Bird farm dilakukan, namun ternyata, Abah Efendi tidak memiliki waktu banyak untuk mengurus kandang. Proses berjalan tanpa pengawalan rutin. Kebetulan sekali ada kesibukan lain yakni pembangunan Mesjid disekitar tempat tinggalnya yakni Gondanglegi Malang.

“Alhamdulillah saya disibukkan untuk mengurus pembangunan Mesjid Jamik Al Ibrahimi Karangasem Gondanglegi Malang, saat ini sudah pada tahap finishing, tinggal 5 persen lagi yakni pengecetan pagar,” tutur kung mania yang tergabung dalam komunitas mobil off road Sakera Malang. Guna merealisasikan percepatan pembangunan mesjid, hasil penjualan produk Naora disumbangkan.

“Kalau ada burung laku, langsung saya masukkan untuk dana pembangunan mesjid dan Alhamdulillah semua rencana berjalan sesuai harapan,” ungkap Abah Efendi. Pasca proses pembangunan sudah mencapai titik akhir, maka ada waktu dan kesempatan untuk kembali memantau produk, membuat analisa dan evaluasi demi kemajuan dan keberhasilan dalam mencetak produk yang lebih berkualitas.

Diakui bahwa saat ini produk Naora masih memiliki volume sedang dan cukup. Ada keinginan untuk menambah volume agar kesan yang dihasilkan lebih membuat banyak kung mania makin terpesona. “Rencana saya mau menambah volume agar lebih besar lagi. Semoga bisa terealisasi dalam waktu dekat,” harap pria kelahiran Gondanglegi Malang.

Selain kandang Paku Alam dan Revolusi, Naora juga banyak mengeluarkan produk unggulan dari kandang lain, salah satunya Naora K.39. Tidak sedikit kung mania yang sudah memboking anakan dari indukan tersebut, baik booking dengar ataupun tidak. “Alhamdulillah kandang 39 banyak yang booking baik dengar atau tidak, sampai saat ini bookingan masih terus ada,” syukur Abah Efendi.















