Banyak cara yang dipilih peternak untuk bisa menghasilkan anakan berkualitas. Indukan yang menjadi faktor utama bagi mereka yang menekuni ternak perkutut, harus dipastikan benar dan sesuai dengan rencana. Selama ini ada peternak yang lebih memprioritaskan pada indukan yang memiliki trah bagus, ada yang memilih kualitas suara dan ada pula yang keduanya.

Bagi Rahman Saleh pemilik Boen-Boen Bird Farm Paberasan Sumenep, memilih indukan yang memiliki suara bagus, adalah keharusan yang tidak bisa dibantah lagi. “Bagi saya saat memilih indukan, harus benar-benar sesuai dengan rencana saya. Saya tidak pernah melihat trah, tetapi memilih suara,” terang Rahman Saleh.
Adapun kriteria indukan yang dimaksud, kalau indukan betina wajib panjang, irama melenggang, depan, tengah dan ujung wajib ada. Sedangkan untuk indukan jantan, butuh power yang besar. Calon indukan jantan, tidak perlu triple, cukup double. Meski calon indukan bukan dari peternak terkenal, tapi sesuai dengan syarat yang selama ini menjadi pilihan, maka akan tetap dipakai.

Syarat itulah yang akhirnya menjadikan produk Boen-Boen Bird Farm selalu berkualitas. Kenyataan ini terbukti dari banyaknya kung mania yang berusaha menjadikan produk bergelang Boen-Boen sebagai referensi. Hal itulah yang berdampak pada stok yang tidak pernah tersisa.
Kandang umbaran yang biasanya menjadi tempat mangkal produk, tidak pernah terlihat terisi. “Saya tidak pernah menyisakan anakan, baik yang betina, apalagi yang jantan, selalu habis,” sambung kung mania yang juga Kepada Desa (Klebun) Paberasan Sumenep. Enam kandang yang berdiri selalu menghadirkan produk unggulan.

Dari keenam kandang, semua menghasilkan anakan rata-rata bagus. Bahkan ada indukan yang mampu menghasilkan anakan sebanyak 8 kali dengan hasil yang rata-rata bagus. Jika sudah mencapai 8 tetasan, biasanya indukan tersebut dicabut, kemudian diistirahkan selama tiga bulan.
Selama tiga bulan, kedua indukan dipisah dalam kandang umbaran untuk menjalani masa istirahat. Selama masa istirahat itu, kandang dibiarkan kosong tanpa penghuni baru. Alasannya sederhana dan masuk akal dan ini berdasarkan pengalaman yang sudah pernah dirasakan dan dilalui.

“Ketika indukan istirahat, kandang ternak dibiarkan kosong karena itu adalah tempat hunian burung tersebut dan tidak boleh ditempati penghuni baru karena penghuni lama, bisa merasa terganggu dengan kehadiran orang baru,” ungkap Rahman Saleh. Diibaratkan bahwa ketika manusia yang pernah menempati sebuah rumah, kemudian ia pergi untuk sementara waktu, kemudian rumah tersebut dihuni orang lain.
Pasti penghuni pertama akan merasa terganggu dan tidak nyaman. Begitu juga dengan apa yang dirasakan burung perkutut. Rahman Saleh mengaku lebih memilih mengosongkan kandang tersebut. Bagaimana dengan indukan yang tidak bisa menghasilkan anakan bagus. Tanpa menunggu waktu terlalu lama, maka kedua indukan dibongkar dan diganti dengan pasangan baru.

Cara seperti itulah yang telah membuktikan bahwa Boen-Boen Bird Farm menjadi salah satu peternak sukses. Ternak yang dilakoni pada tahun 2024, hanya dalam waktu satu tahun, sudah bisa mencetak produk unggulan. Bahkan memasuki tahun kedua yakbi 2026, Boen-Boen makin meningkatkan kualitas hasil ternaknya.
Sampai-sampai Rahman Saleh mengaku tidak bisa melombakan burung karena tidak ada burung yang bisa dijadikan amunisi. “Saya tidak bisa lomba bukan karena malas atau tidak mendukung kegiatan hobi perkutut, tapi selama ini tidak ada burung yang bisa dilomba, semua laku,” papar kung mania senior.

Bahkan produk yang tersebar ke beberapa masyarakat setempat, kadang ditarik balik jika ada yang terpantau bagus dengan tujuan untuk dijadikan calon indukan. Sabar, telaten dan jujur menjadi kunci sukses Rahman Saleh menekuni ternak perkutut dengan hasil menggembirakan.














