Kusnandar, salah satu peternak asal Dusun Langsar Deje Desa Lancar Kecamatan Saronggi Kabupaten Sumenep, memiliki komitmen untuk menjadi peternak yang tidak ingin membuat kecewa orang lain. Sebagai satu diantara peternak yang ada di Sumenep, Kusnandar berharap produk yang lepas dari kandangnya sudah benar-benar terpantau dengan baik oleh konsumen.

Pemikiran inilah yang akhirnya membuat Kusnandar wajib bagi setiap calon pembeli untuk memantau langsung perkutut ternakan miliknya tanpa lewat pantau langsung. Istilah booking anakan menjadi hal yang tidak pernah akan dilakukan. “Saya menghindari menjual anakan dengan cara booking, karena khawatir mengecewakan pembeli, kasihan kalau mereka sampai salah pilih burung,” terang Kusnandar.
Lebih lanjut disampaikan bahwa cara ini dinilai lambat untuk memasarkan produk ternaknya, namun itu adalah pilihan yang dianggap sesuai dengan apa yang selama ini diinginkan. Padahal kalau dilihat dari hasil ternak, Kusnandar dikenal sebagai peternak yang sukses mencetak produk kualitas lomba.

KLN Bird Farm miliknya, sudah terbukti banyak melahirkan perkutut berprestasi di lapangan. Bahkan Kusnandar sendiri mengaku seluruh produknya laris manis diburu kung mania. “Terus terang, saya tidak sempat mengorbitkan burung dari ring sendiri karena semua anakan sudah laku terjual,” sambung Ketua Pengcam Saronggi.
Tidak hanya produk berjenis jantan saja yang habis terjual, produk dengan jenis kelamin betina, juga ikut-ikutan terjual. “Banyak orang yang cari burung kesini, baik untuk lomba ataupun ternak, makanya semua produk saya baik yang jantan atau betina, semua habis terjual,” ungkap Kusnandar lagi.

Keberhasilan ini berkat pengembangan indukan yang dilakukan. Cikal bakal indukan KLN K.5 (Sya-Sya x KLN) dan KLN K.7 (Begal – Tak Nyana x KLN), menjadi awal kesuksesan Kusnandar mengembangkan ternak. Dari kandang inilah lahir beberapa anakan dan ketika itu tidak langsung dilepas, karena dijadikan indukan.
Dari dua kandang ini KLN mampu membangun formasi kandang unggulan yang mampu mencetak produk berkelas, seperti Topeng. Ketika itu Topeng dan Begal sempat menjadi amunisi kebanggaannya. Setiap kali turun lomba, tak pernah sekalipun sang orbitan demam panggung.

Sebaliknya di tangan Kusnandar, Topeng dan Begal menjadi senjata ampuh di arena. Seiring perjalanan waktu, saat prestasi itu sudah tidak terhitung lagi berapa jumlah kemenangan yang sudah didapat, KLN Bird Farm makin populer di kalangan kung mania, khususnya di Sumenep.
Saat prestasi itu berada di puncak, Kusnandar mengambil keputusan untuk mengkandangkan Begal (Tak Nyana) dengan alasan agar ada keturunan yang bisa dijadikan amunisi lanjutan. Artinya Begal libur/istirahat untuk dilomba. Sedangkan Topeng tetap berkiprah di arena konkurs dan juga masuk kandang ternak.

Siapa sangka dari sinilah awal popularitas KLN Bird Farm dan juga Kusnandar dimulai. Hasil anakannya menjadi pilihan kung mania. Kabarnya Kusnandar sampai tidak sempat mengorbitkan produk sendiri karena tidak ada stok yang bisa dijadikan “mainan”. “Kadang saya bingung ketika ada lomba karena tidak ada burung yang bisa dilombakan, semua laris manis,” kata Kusnandar lagi. Perjalanannya menekuni ternak perkutut dinilai berhasil dalam jangka waktu cepat.
KLN Bird Farm resmi di launching pada tahun 2023. Satu tahun kemudian, tepatnya 2024, hasil anakan dinilai bagus dan menjadi sasaran pelomba dan juga peternak. Kini, stok kosong dan hanya menyisakan kandang umbaran tanpa ada penghuninya. “Alhamdulillah semua anakan saya tidak pernah sisa, stok tidak ada karena terjual,” ungkap Kusnandar lagi.














