Tujuan akhir dari setiap peternak adalah bisa menghasilkan produk unggulan yang sukses meraih juara di arena konkurs. Sebab jika itu terjadi, maka peternak tersebut bisa dikatakan berhasil. Tentunya, ada beberapa faktor yang bisa mendukung terwujudnya semua itu. Selain materi yang harus memadai, keuletan, kesabaran serta ketekunan diharapkan menjadi bagian yang tidak boleh diabaikan.

Retno Bird Farm menjadi salah satu potret peternak berada jauh dari perkotaan, namun kini sukses melahirkan produk yang berhasil menembus podium juara pada gelaran yang diikutinya. Retno sang pemilik mengaku bahwa ternak yang ditekuninya hanyalah sebatas kandang ternak seadanya.
Tidak nampak mewah, namun tidak pula asal-asalan. Sebagai peternak yang tinggal jauh dari keramaian kota, Retno Bird Farm tetap eksis menekuni ternak dengan berbekal materi yang sanggup didapatnya. “Saya adalah peternak pinggiran, kondisi kandang juga tidak terlalu bagus, tapi saya bangga memilikinya,” terang Retno mengawali obrolan.

Sebagai peternak kecil, Retno BF berusaha untuk bisa menjadikan hasil ternaknya dengan kualitas yang banyak dicari kung mania. Awalnya memang susah dan dirasa berat. Apalagi ketika harus bersaing dengan peternak yang lebih besar dengan deretan materi yang lebih lengkap dan bagus.
Namun Retno tidak berkecil hati, dalam pikirannya bahwa pada suatu ketika, Retno Bird Farm akan bisa mencetak produk yang mampu meraih juara di arena konkurs. Dari materi yang dimiliki, Retno berusaha mengotak atik materi yang ada. Ketika ada sepasang indukan yang kurang bagus hasil anakannya, maka dilakukan pergantian formasi. Begitu seterusnya.

Sepasang indukan yang dinyatakan gagal, maka akan dilakukan penjodohan ulang. Gonta ganti formasi indukan, menjadi pemandangan yang bisa dilihat. Selama proses itu berlangsung, Retno mengaku tidak banyak mendatangkan indukan baru. “Saat proses penjodohan, saya memanfaatkan indukan yang saya punya tanpa menambah dari luar. Indukan kandang A saya silang dengan indukan kandang B, begitu seterusnya,” ungkap Retno.
Siapa sangka, cara demikian mampu merubah hasil ternak. Kualitas anakan Retno BF, mulai menunjukkan peningkatan kualitas. Hal itu terjadi pada tahun 2025 lalu. Nama Retno mulai tampil dalam setiap gelaran. Produk bergelang Retno, selalu menghiasi daftar kejuaraan pada kelas yang diikutinya, mulai dari kelas Piyik Hanging sampai di kelas kerekan.

Simon, menjadi satu diantara produk yang sukses memperlihatkan mutu ternakan Retno. Prestasi tersebut mengilhami kung mania untuk menggunakan produk ternaknya, semisal Salim asal Talango Sumenep. “Alhamdullilah ada rekan dari Talango yang mau mengorbitkan ternakan saya, namanya Salum, dua adalah pendatang baru,” urai Retno lagi.
Ditangan Salim inilah produk Retno mulai dikenal dengan prestasi yang membanggakan. Salim sukses mengorbitkan perkutut bernama Selat Madura, So’imah, Valen dan Sultan Kalianget. Rata-rata sang orbitan itu masih tampil di Kelas Piyik Hanging, namun seiring perjalanan waktu, ada kalanya sudah dinaikkan pada kelas kerekan.

Retno mengaku bahwa untuk sementara produknya baru tampil di gelaran Kota Sumenep. Namun ada rencana, beberapa amunisi, akan diturunkan dalam even yang lebih tinggi yakni Liga Perkutut Indonesia. “Rencana ada beberapa orbitan yang akan saya bawa ke LPI di Madiun. Semoga ada yang bisa juara,” harap Retno.







































