H.Sularno BSD Tangerang mengatakan bahwa juri yang bertugas di lapangan memiliki resiko yang harus ditanggung. Resiko yang dimaksud adalah protes yang dilayangkan oleh peserta. “Juri sering kali mendapat protes keras dari peserta. Profesionalisme diuji saat situasi memanas,” terang pemilik 3F Bird Farm.

Untuk itulah perlu dilaukan langkah-langkah agar juri memiliki kesiapan ketika menghadapai kondisi demikian. Adapun langkah yang bisa dilakukan adalah dengan Pelatihan Manajemen Konflik. Langkah ini bisa dilakukan dengan mengajarkan juri cara menjelaskan alasan penilaian secara logis dan tenang kepada peserta yang tidak puas.
Cara lain adalah Etika di Lapangan. Juri dilarang berkomunikasi secara personal dengan peserta selama lomba berlangsung. Ponsel sebaiknya dikumpulkan atau dinonaktifkan saat bertugas di tiang gantangan. “Membangun ketahanan mental dan kemampuan komunikasi (The Mind) adalah tentang membekali juri dengan “perisai” psikologis,” sambung H.Sularno.
Lebih lanjut disampaikan bahwa saat berada di lapangan, juri tidak hanya bertarung dengan suara burung, tetapi juga dengan tekanan dari penonton atau peserta, nama besar pemilik burung, hingga kelelahan fisik. Berikut adalah cara-cara strategis untuk menciptakan juri yang tangguh secara mental dan mahir berkomunikasi.

Pertama, Pelatihan Psikologi “Tekanan Massa” (Stress Management). Juri harus dilatih untuk tetap tenang meski berada di bawah tekanan ribuan mata lewat cara Simulasi Simulakra, yakni mengadakan latihan penjurian di mana peserta pelatihan sengaja diprovokasi dengan teriakan, ejekan, atau protes keras (oleh aktor/rekan sejawat).
Tujuannya agar juri terbiasa mempertahankan konsentrasi di tengah kebisingan emosional. Cara berikitnya adalah Teknik Pernapasan dan Fokus, yakni dengan mengajarkan teknik box breathing atau meditasi singkat di sela-sela babak untuk menurunkan level kortisol (hormon stres) agar juri tetap jernih dalam mengambil keputusan.
Kedua, Kemahiran Komunikasi Asertif (Public Speaking). Juri yang profesional harus bisa menjelaskan keputusannya tanpa terlihat lemah, namun tidak juga terlihat menantang. Cara ini meliputi Teknik “Sandwich Communication”, yakni melatih juri menyampaikan hasil penilaian dengan urutan: Apresiasi – Evaluasi Teknis – Motivasi.
Contoh: “Burung bapak suara depannya sangat mewah (Apresiasi), namun di babak kedua tadi iramanya sedikit terburu-buru/lari (Evaluasi), kalau iramanya stabil kembali pasti bisa naik ke 3 warna (Motivasi).”. Cara lain adalah Penguasaan Bahasa Tubuh. Juri dilatih untuk memiliki postur tubuh yang tegak, kontak mata yang tenang, dan nada bicara yang terkontrol.

Bahasa tubuh yang ragu-ragu akan mengundang peserta untuk melakukan intimidasi. Ketiga, Literasi Aturan dan Regulasi (Cognitive Strength). Menurut H.Sularno, mental yang kuat lahir dari pemahaman aturan yang mendalam. Jika juri ragu dengan aturan, dia akan mudah goyah saat diprotes oleh peserta di lapangan.
Untuk menghadapi kondisi demikian, perlu dilakukan langkah sebagai berikut, Ujian Lisan Dadakan. Secara rutin, pengawas memberikan pertanyaan acak tentang AD/ART atau pakem penilaian. Juri yang hafal aturan luar kepala akan memiliki kepercayaan diri (self-confidence) yang tinggi saat berhadapan dengan peserta yang mencoba memanipulasi aturan.
Cara berikutnya adalah Debat Kasus. Dalam hal ini juri mendiskusikan kasus-kasus kontroversial yang pernah terjadi di lomba lain dan menentukan solusi terbaiknya secara kolektif. Keempat, Pendampingan Mental (Mentoring & Debriefing). Masih menurut Ketua Pengwil Jabodetabekar, jangan biarkan juri membawa beban mental ke rumah setelah lomba yang penuh konflik.

Guna menghindari hal ini, maka perlu dilakukan langkah yakni, Sesi De-briefing. Setiap akhir lomba, semua juri berkumpul untuk mengeluarkan unek-unek. Jika ada juri yang baru saja mendapat serangan verbal, rekan sejawat dan senior memberikan dukungan moral agar mentalnya tidak jatuh. Cara berikutnya adalah Sistem Buddy (Kemitraan).
Menempatkan juri junior bersama juri senior yang memiliki jam terbang tinggi. Juri senior bertugas sebagai “pelindung mental” yang memberikan ketenangan saat situasi lapangan mulai memanas. Kelima, Netralitas Emosional (Stoikisme Lapangan). Hal ini untuk mengajarkan filosofi bahwa juri hanyalah instrumen penilaian, bukan sasaran pribadi.
Beberapa poin yang perlu diperhatiakn adalah, Pemisahan Identitas. Juri harus memahami bahwa protes peserta biasanya ditujukan pada “keputusan”, bukan pada “pribadi” juri. Dengan memisahkan kedua hal ini, juri tidak akan mudah baper (bawa perasaan) atau menyimpan dendam kepada peserta tertentu.
Evaluasi Diri Tanpa Defensif. Melatih juri untuk berani mengakui jika ada kekeliruan pantauan tanpa merasa harga dirinya jatuh. Integritas mental justru terlihat saat seseorang berani jujur pada keterbatasan indranya.

Tentu, memiliki naskah standar sangat membantu juri agar tidak “gagap” atau terbawa emosi saat ditekan oleh peserta. Naskah ini menggunakan teknik Asertif-Empati, yaitu tetap menghargai perasaan peserta namun teguh pada keputusan teknis. Berikut adalah beberapa skenario naskah standar untuk juri:
Skenario 1: Menghadapi Protes di Tengah Lomba (Mengarahkan ke Jalur Resmi)
Gunakan ini saat peserta berteriak atau mendekat ke arah juri saat babak masih berlangsung. Juri: “Mohon maaf Bapak/Ibu, saya sangat menghargai perhatian Anda terhadap burung tersebut.

Namun, demi ketertiban lomba yang sedang berjalan, mohon sampaikan keberatan Anda melalui Korlap atau Meja Pengaduan secara resmi setelah babak ini selesai. Saya harus kembali fokus memantau semua burung di blok ini agar tetap adil bagi semua peserta. Terima kasih atas kerja samanya.
Skenario 2: Menjelaskan Alasan Teknis (Penolakan Halus). Gunakan ini saat mediasi bersama Korlap, ketika juri harus menjelaskan mengapa bendera tidak naik. Juri: “Terima kasih atas masukannya, Pak. Terkait burung di nomor gantangan (nomor), kami sudah memantau dengan saksama.
Secara suara depan dan tengah memang sudah masuk kriteria, namun pada bagian suara ujung (akhiran), kami mencatat suaranya cenderung pendek/nggantung (atau sebutkan alasan teknis lainnya). Sesuai pakem penilaian hari ini, untuk naik ke (Level Nilai), dibutuhkan akhiran yang lebih bulat dan bersih. Kami tetap objektif berdasarkan apa yang terdengar di lapangan tadi.”
Skenario 3: Menghadapi Peserta yang Membandingkan dengan Burung Lain. Gunakan ini saat peserta protes karena merasa burungnya lebih baik dari burung di sebelahnya. Juri: “Kami memahami bahwa setiap burung memiliki keistimewaan masing-masing. Namun, tugas kami adalah menilai kualitas suara secara mandiri berdasarkan indikator yang ada di lembar penilaian, bukan sekadar membandingkan.

Burung yang Bapak maksud memiliki poin kelebihan di [Sebutkan Sisi Positif], namun ada kekurangan di [Sebutkan Sisi Teknis] yang membuatnya belum bisa melampaui nilai burung lainnya. Mari kita pantau bersama di babak berikutnya.”
Skenario 4: Menghadapi Protes yang Mengintimidasi/Keras. Gunakan ini dengan nada tenang namun tegas untuk meredam emosi. Juri: “Bapak, saya mengerti Anda kecewa, dan itu wajar karena Bapak menginginkan yang terbaik untuk burung Anda. Namun, mari kita bicara dengan kepala dingin.
Kami di sini bertugas secara profesional dan tidak ada kepentingan pribadi dengan pemilik mana pun. Jika Bapak merasa ada prosedur yang salah, silakan isi Formulir Protes agar dewan pengawas bisa meninjau ulang secara sah. Saya tidak bisa mengubah nilai di sini berdasarkan perdebatan lisan.”
H/Sularno memberikan tips yang bisa dilakukan juri. “Saya ingin memberikan tips komunikasi Non Verbal untuk juri, agar naskah di atas efektif, perhatikan juga hal berikut,” tambah salah satu tokoh penggerak hobi perkutut di blok barat. Berikut tips nya. Posisi Tubuh, jangan melipat tangan di dada (terkesan defensif/sombong). Berdirilah dengan tangan di samping atau di belakang.
Kontak Mata, tatap mata peserta dengan tenang, jangan menunduk (terkesan takut) atau melotot (terkesan menantang). Dan volume Suara, yang menjelaskan agar juri tetap stabil. Jika peserta meninggikan suara, juri justru harus menurunkan sedikit volumenya namun tetap tegas agar situasi mendingin.







































