Nama besar Ababil Bird Farm Sampang sebagai satu diantara sekian peternak sukses, sampai saat ini masih menjadi daya tarik. Prestasi demi prestasi yang sudah dibukukan, tidak mungkin bisa dilupakan dan bahkan dianggap enteng. Pasalnya, produk yang pernah tampil di lapangan, sukses menembus barisan jawara pada level regional dan bahkan nasional.

Sudah tak terhitung lagi sudah berapa produk yang berhasil menembus daftar kejuaraan di barisan paling depan dan tidak bisa diingat lagi sudah ada berapa nama perkutut berprestasi yang berjaya menjadi pemenang. “Alhamdulillah Ababil masih diberikan rejeki okeh Allah SWT untuk mencetak burung bagus dan juara di lapangan, baik untuk level regional dan juga nasional,” terang H.Abd.Aziz sang pemilik farm.
Yang membuat bangga bahwa prestasi tersebut tidak hanya sukses ketika diorbitkan sendiri, tetapi ketika berada di orang lain, masih mampu mempersembahkan prestasi membanggakan. Sebut saja Camelia, amunisi H.Sunahwi Talango. Soal reputasi, jangan ditanya. Prestasinya sudah teruji dalam setiap kali turun lomba, baik pada tingkat regional (Liga Perkutut Madura) dan juga tingkat nasional (Liga Perkutut Indonesia).

Sudah tidak terhitung lagi sudah berapa kali, H.Sunahwi tampil di depan menerima penghargaan. Diusianya yang sudah mencapai 5 tahun, Camelia masih terus menunjukkan kelasnya sebagai petarung yang tampil tanpa kompromi. Begitu juga dengan Ruby Star, amunisi Team Primarasa Bandung. Soal performa, tak pernah mengecewakan.
Setiap kali mengahadapi lawan, dipastikan selalu berakhir dengan kemenangan. Jelajah dari satu konkurs ke konkurs lain dengan kondisi cuaca yang berbeda, sepert inya tidak mampu meredam ambisi Ruby Star untuk selalu tampil on fire. Kini diusia yang sudah mencapai 4 tahun, nampaknya bukan penghalang untuk terus menambah koleksi juara yang sudah dicapai sebelumnya.

Menghadapi musim 2026, Ababil Bird Farm sudah mempersiapkan amunisi lanjutan. “Untuk tahun 2026, Ababil in syaa Allah sudah ada 4 burung yang bakal segera diorbitkan. Saya tidak mau mendahului, takut nanti salah,” sambung kung mania yang juga tokoh agama di Sampang Madura.
Adapun burung yang dimaksud adalah Agoda, Irama Agung Ababil, Kalakau dan Gema Agung. Untuk Agoda, sudah teruji dalam beberapa kali turun tarung. Podium juara selalu membawa namanya sebagai jawara yang harus diwaspadai. Dengan usia sekitar 1,5 tahun, rasanya sudah cukup bagi Agoda untuk terus menancapkan eksistensinya sebagai penantang bagi lawan yang beradu kualitas pada kelas yang sama.

Untuk Irama Agung Ababil secara kualitas juga tidak bisa dianggap remeh. Saat tampil dalam gelaran yang pernah diikutinya, selalu membuat lawan ciut. Usianya baru menginjak 9 bulan dan akan menjadi burung masa depan. Sedangkan untuk Kalakau, diakui masih belum popular di kalangan kung mania tanah air.
Maklumlah, eksistensinya masih bisa dihitung dengan jari. Namun, saat dilatih dalam beberapa kesempatan, secara kualitas tidak akan mengecewakan. Usianya baru berada diangka 7 bulan. Namun soal kualitas, jangan kaget. Kalakau adalah keponakan Agoda dan diakui lebih dahsyat.

“Kalakau adalah keponakan Agoda, namun lebih bagus dari sisi air suara dan ujung. Agoda sudah bagus, tapi Kalakau lebih bagus lagi,” ungkap pemilik travel jamaah haji dan umrah PT. ZIU (Zahra Ibadah Ummat). Untuk Gema Agung juga akan menjadi amunisi lanjutan pada pendahulunya karena mengalir trah Camelia. Usianya baru berada di angka 7 bulan.
Namun secara kualitas tidak kalah dengan seniornya. Disampaikan H.Abd.Aziz bahwa rata-rata produk Ababil mencapai puncak kualitasnya ketika usianya sudah dewasa. “In syaa Allah keempat produk Ababil siap meramaikan persaingan perebutan podium juara. Semoga Ababil seperti sumber air yang tidak pernah mengering,” harap H.Abd.Aziz lagi.














