Hobi perkutut tanah air, semakin lama menunjukkan ritme yang menyenangkan. Perkembangan yang luar biasa, begitu cepat dan benar-benar bisa dirasakan oleh seluruh komunitas perkutut tanah air. Poin yang tidak bisa dipungkiri adalah frekuensi agenda konkurs, terutama yang terjadi di daerah-daerah.

Hampir setiap waktu, selalu ada pemandangan para kung mania berkumpul, bersilaturahmi dengan sesama komunitas. Tiada hari tanpa hobi perkutut, itulah yang terjadi saat ini. Munculnya banyak peternak, juga mewarnai perjalanan hobi perkutut di Indonesia, baik mereka yang sudah sukses mencetak produk unggulan ataupun masih dalam proses menuju kesana.
Perjalanan hobi perkutut di Indonesia, diwarnai oleh berbagai catatan prestasi. Ada peternak yang berhasil melahirkan produk unggulan, kemudian diorbitkan oleh penggila lomba, sampai mencapai puncak prestasi. Pencapaian prestasi tersebut karena campur tangan seorang perawat yang berhasil memunculkan dan sekaligus membangkitkan potensi yang dimiliki oleh sang rawatan.
Peran joki kadang menjadi faktor pendukung yang tidak bisa dikesampingkan begitu saja. “Kolaborasi” yang terjadi, antara peternak, perawat, joki, yang akhirnya mengantarkan perkutut ke podium puncak popularitas dan prestasi tersebut diraih secara kontinyu dan rutin setiap minggu.

Namun, bagaimana jika pencapaian tersebut hanya dilakukan satu pihak (tidak banyak orang dan bukan hasil kolaborasi). Hal itu tentu sesuatu yang luar biasa dan bisa dikatakan baru pertama kali terjadi di Indonesia. Team Chelsea & Goendul Surabaya, sukses membuktikan hal tersebut. Cak Goendul berhasil membuat takjub bahwa meski tanpa kolaborasi, namun bisa mencatat prestasi fantastis.
Nama Cak Goendul begitu populer di kalangan para penggila lomba, terutama untuk di Pulau Jawa. Pencapaian prestasi yang sudah dibukukan selama eksis di dunia hobi perkutut, tidak bisa terbantahkan. “Alhamdulillah kehadiran kami selalu mendapatkan respon positif dari teman-teman dan kami bisa hadir dengan santai,” terang Cak Goendul.
Team Chelsea & Goendul Surabaya beranggotakan Cak Goendul, Tia Chelsea dan Kadir Chelsea. Masing-masing personel memiliki peran. “Kami hanya bertiga saja dan masing-masing anggota, punya peran sendiri-sendiri,” sambung Cak Goendul. Untuk urusan konkurs, mulai persiapan sampai menuju lokasi, adalah tanggung jawab Cak Goendul.

Tia Chelsea diberikan kepercayaan di bagian marketing dan Kadir Chelsea diserahi tugas untuk urusan memasang ring/gelang dan mengecek kondisi kandang. Nah, peran paling menentukan memang dikendalikan langsung oleh Cak Goendul. Sebagai seorang peternak, Cak Goendul harus mempersiapkan burung produk sendiri (bergelang Goendul dan juga Chelsea).
Mulai dari rawatan (memberikan vitamin, nutrisi yang dibutuhkan burung lomba) sampai memastikan kesiapannya. Ketika menuju lokasi, Cak Goendul juga harus memahami bagaimana memperlakukan burung selama dalam perjalanan, memastikan posisi dalam mobil yang akan mengangkatnya, aman dan tidak menyebabkan masalah.
Sesampai di lapangan, Cak Goendul harus menjoki sendiri. Rutinitas ini dilakukan setiap minggu, dari satu daerah ke daerah lain. Hasilnya memang, membanggakan. Setiap kali turun lomba, tidak pernah absen membawa kemenangan, yang diwujudkan dalam bentuk trophy atau piala dan juga hadiah sembako.

Team Chelsea & Goendul Surabaya berhasil membuktikan mampu mengorbitkan burung hasil ternak sendiri, di rawat sendiri, dijoki sendiri, turun rutin tiap minggu dan selalu meraih podium juara. Kenyataan ini menjadi fakta yang tidak bisa terbantahkan dan belum pernah dilakukan team lain. Di awal eksistensinya, team rutin merilis seragam konkurs, mampu mendominasi perolehan juara di Kelas Piyik Hanging sampai akhirnya berlanjut pada Kelas Piyik Yunior.
Soal hasil akhir, podium pertama selalu menjadi langganan. “Target kami selanjutnya adalah bisa meraih juara di kelas kerekan full, tentunya dengan hasil yang memuaskan dan membanggakan sepeti yang pernah kami dapatkan saat awal turun lomba,” harap kung mania bernama asli Rahmad. Keikutsertaan team ini, tidak hanya dalam even lokal dan regional saja, tetapi juga dalam ajang lomba besar dan level nasional.
Bangga dan puas adalah hasil yang didapat. “Tujuan kami turun lomba adalah menang dan juara dan selama ini sudah kami alami,” jelas Cak Goendul lagi. Disampaikan juga bahwa target turun lomba setiap minggu, adalah alasan kuat untuk menaikkan brand atau image. Bagi Team Chelsea & Goendul, perkutut diibaratkan sebagai perusahaan yang harus terus dikelola, dipikirkan dan dijalankan, sehingga memberikan manfaat bagi orang-orang yang ada di dalamnya.

Tidak ada kamus libur dalam team ini, kecuali ada acara yang memang tidak bisa ditunda dan ditinggalkan. Diakui bahwa rutinitas turun lomba setiap minggu, memang berdampak pada anggaran. “Budget yang kami keluarkan mulai 12,5 juta sampai 15 juta perbulan. Itu kami gunakan untuk kebutuhan lomba di Pulau Jawa,” ungkap Cak Goendul. Angka tersebut sepertinya bukan menjadi penghalang bagi Team Chelsea & Goendul untuk menurunkan frekuensi menuju lapangan.
Untuk konkurs tahun 2026, team ini fokus dan memprioritaskan untuk wilayah Jawa Timur berdasarkan target pasar. Sedangkan untuk konkurs di luar Jawa Timur akan diikuti pada gelaran level nasional dan selama Jawa Timur, tidak ada jadwal. Sedangkan untuk amunisi yang akan diorbitkan, masih mengandalkan jawara lama dan pendatang baru. “Ada burung lama dan burung-burung baru yang siap orbit. Untuk tahun ini team kami fokus untuk ikut lomba di kerekan full,” tambah Cak Goendul lagi.







































