Panitia LatNil Pengcam Waru Sidoarjo baru saja usai menggelar hajatan pada Minggu, 11 Januari 2026 dengan hasil memuaskan. Sukses menghadirkan peserta sesuai jumlah kouta sebanyak 6 blok (Piyik Bebas 2 blok, Piyik Yunior 2 blok dan Piyik Hanging 2 blok). Kegiatan berjalan sesuai harapan tanpa ada kendala.

Keberhasilan ini diikuti juga oleh sukses yang diraih Andre, kung mania Surabaya. Salah satu amunisi terbaiknya yakni Garuda ditetapkan sebagai pemenang dan peraih podium pertama Kelas Piyik Hanging. Keberhasilan ini berkat raihan bendera dua warna hitam pada babak pertama, bendera dua warna hitam pada babak kedua, bendera tiga warna pada babak ketiga dan bendera dua warna hitam pada babak keempat.
Kondisi cuaca yang kurang maksimal, menjadi performa perkutut bergelang Puncak Jaya ini juga mengalami efek yang tidak mampu tampil dalam kondisi fighter. Andre mengaku bahwa bahwa andai kondisi bisa lebih panas, maka peluang untuk bisa meningkatkan penampilan bisa lebih ditampilkan.

“Kondisi cuaca kurang mendukung, tapi Garuda bisa tetap on fire meski belum mentok,” terang Andre saat dihubungi usai acara. Kemenangan ini tentu menjadi catatan bagus dan membanggakan karena Garuda berhasil mengkanvaskan dua blok peserta yang beradu nasib pada kelas yang sama.
Para lawan yang sudah memiliki nama besar dan reputasi sebagai jawara lapangan, nampaknya tidak membuat perkutut yang lahir dari kandang Puncak Jaya 1 B harus demam panggung. Bahkan sebaliknya dengan pengawalan langsung, Garuda mampu menunjukkan kelasnya. Digantang pada nomor 60, Garuda tampil tanpa beban.

Diakui oleh Andre bahwa keikutsertaannya dalam gelaran lomba merupakan even yang ketiga kalinya. Tampil perdana dalam even di Jombang, Garuda meraih juara di urutan keenam Kelas Piyik Hanging. Tarung berikutnya adalah di LPM Pamungkas Bangkalan, Garuda kembali menyabet podium yang sama yakni di urutan keenam.
Pertarungan paling anyar terjadi di Lapangan Pondok Candra Waru Sidoarjo dan langsung membuat heboh seisi lapangan. Keberhasilan Garuda mempertontonkan kemerduan suaranya karena trah yang dimiliki luar biasa. Lahir dari indukan jantan Puncak Jaya 330 bersama betina Angkasa 878 – anak TPP T.10 (Sungguh Terlalu).

Garuda merupakan anakan ketiga dan terakhir. Untuk saudara-saudara memiliki kualitas yang tidak beda jauh, baik yang jantan ataupun betina. Menurut Sayadi pemilik Puncak Jaya Bird Farm Sampang, pasca melahirkan Garuda, formasi indukan mengalami perubahan dengan tujuan agar kualitas anakan berikutnya makin dahsyat.
“Alasan saya mengganti indukan yang dibawa Mas Andre adalah agar anakan yang akan dilahirkan nanti, bisa lebih bagus, karena indukan yang dipakai adalah mantan jawara dan pernah menghiasai podium juara di konkurs nasional. Siapa tahu langkah itu adalah sulosu yang benar dan bisa meraih harapan,” ungkap Sayadi.

Sang jantan diganti dengan indukan baru yakni HSP 34 (Satimin milik MTG) yang merupakan mantan jawara yang pernah eksis di arena konkurs dengan kualitas bendera 4 warna. Dengan bekal itulah Garuda diyakini akan terus melakukan serangan pada lawan. “Semoga ke depan Garuda bisa tetap top form dan mau tampil dengan performa lebih baik dan stabil,” harap Andre.















