Siapa yang tidak kenal dengan Team JBM Malang. Eksistensinya di dunia hobi perkutut tanah air sudah tidak terbantahkan. Prestasi demi prestasi yang diukir team pimpinan H.Abdullah Mubarok Faisol sudah tidak terhitung lagi. Saat berada di lapangan, itu artinya menjadi ancaman bagi peserta lain, terutama mereka yang berada dalam satu kelas.

Deretan amunisi yang memperkuat Team JBM sudha terbukti menjadi pemenang pada kelas yang diikutinya. Berbekal kualitas yang mumpuni, bukan perkara sulit bagi amunisi Team JBM untuk bisa merangsek di podium barisan paling depan daftar kejuaraan. Didukung penuh oleh pasukan yang siap tempur setiap saja, kapan dan dimana, maka Team JBM semakin memperlihatkan level yang berbeda dengan yang lain.
“Alhamdulillah sampai saat ini Team JBM tetal solid dan makin kompak dan yang membuat saya bangga adalah bahwa Team JBM masih terus mengukir prestasi di beberapa even, baik nasional ataupun lomba besar dan regional. Semua ini berkat keinginan team yang selalu ingin menjadi yang terbaik serta bimbingan Abah Faisol,” terang H.Abdullah Mubarok Faisol.
Setelah sukses mengantarkan beberapa amunisi terbaik ke posisi paling tinggi, kini Team JBM meneruskan tren posistif sebagai kung mania yang tidak pernah absen dalam gelaran konkurs dengan hasil yang terbaik. Saat ini Team JBM kembali mempertontonkan amunisi lain yakni Kendawangan, perkutut ternakan ABR Bird Farm.

Soal prestasi, jangan ditanya. Dalam setiap turun tarung, perkutut yang kini sudah memasuki usia satu tahunan, selalu membuat H.Abdullah dan rekan-rekan lainnya semakin bangga dan senang. Dari catatan yang dimiliki Team JBM, Kendawangan sudah menorehkan prestasi terbaiknya di podium pertama dpada konkurs nasional sebanyak 7 kali.
Belum lagi prestasi di pentas lomba besar dan regional. Sudah tidak terhitung jumlahnya. Kenyataan inilah yang membuat kung mania berusaha untuk mengambil alih kepemilikan Kandawangan. Namun demikian, H.Abdullah Mubarok Faisol sepertinya tidak terpengaruh dengan permintaan kung mania untuk melepas.
Bahkan iming-iming rupiah dalam jumlah besar dan mungkin menjadi penawaran dalam sejarah perkututan tanah air, tidak membuat H.Abdullah berubah pikiran. Kendawangan tetap belum ada keinginan untuk memberikan pada orang lain. “Sebelum Kandawangan punya anak, saya belum mau melepasnya. Saya juga masih ingin menjadikannya amunisi Team JBM, selain Janji Jiwa dan Revolusi” ungkap H.Abdullah Mubarok Faisol.

Kualitas Kendawangan sebagai amunisi masa depan, sebenarnya sudah terliaht saat usia 3 bulan. Menurut informasi Dayat, salah satu Team JBM bahwa saat tampil dalam gelaran Piala Nala Surabaya yang digelar pada Sabtu dan Minggu, 15 – 16 Februari 2025, kandawangan saat itu diturunkan pada kelas Piyik Yunior,
Padahal usianya baru 3 bulan. “Abah memutuskan untuk menurunkan Kandawangan di Kelas Piyik Yunior, meski usianya baru 3 bulan,” ungkap Dayat. Namun siapa sangka, walau harus berhadapan dengan peserta yang sudah memiliki usia lebih dewasa dan jam terbang tinggi, namun Kendawangan memperlihatkan kelasnya sebagai burung prospek.
Podium juara pertama dengan mudahnya berhasil diraih. Sejak saat itulah Kandawangan dipilih menjadi amunisi untuk Team JBM disamping andalan yang lain. Informasi yang perlu disampaikan adalah saat Kendawangan tampil dalam gelaran LPI#9 Mandalika di Lombok yang digelar pada Sabtu dan Minggu, 01 – 02 November 2025.

Saat tampil di Lombok, turun di Kelas Piyik Yunior, Kendawangan sempat memimpin jalannya lomba dengan raihan nilai tiga warna hitam pada babak pertama dan tiga warna usulan pada babak kedua. Saat memasuki babak ketiga, Kendawangan kembali memperlihatkan kelasnya dengan raihan bendera tiga warna hitam.
Namun sayang, saat memimpin itulah Kendawangan kena diskualifikasi, sehingga harapan untuk menjadi yang terbaik harus pupus. Penasaran dengan performa yang ditunjukkan, team JBM kembali menurunkan Kendawangan di Kelas Dewasa Senior, namun sebaliknya, Kendawangan belum ada rejeki untuk membawa pulang trophy juara.
“Saya turun di Kelas Dewasa Senior, Kendawangan kurang bunyi dan tidak bisa masuk nominasi juara,” jelas Dayat. Kenyataan itu dianggap sebagai tanda bahwa Kandawangan sebagai bintang tamu di kelasnya. “Diskualifikasi bukan berarti Kendawangan kalah karena nilainya tidak ada yang nandingi atau menyamai,” tutur H.Abdulloh Mubarok.

Sedangkan untuk gelaran Lomba Besar GNP Cup 2 Tulungaung, Kendawagan absen karena nelur pas hari Sabtu sebelum gelaran, yakni tanggal 15 November 2025. Kandawangan saat ini berjodoh dengan betinanya yang dinilai istimewa yaitu ATLAS K.333 B. Menurut H.Abdulah Mubarok inilah moment yang harus dimanfaatkan.
Kendawangan sudah banyak bookingan. “Kata Abah Faisolbelum pernah ada burung seperti Kandawangan yang memimpin dengan nilai tertinggi.setiap juara 1. Bertarung dengan siapapun dan dimanapun pasti juara. Kendawangan juga belum pernah juara di 3 warna karena selalu dapat bendera 3 warna hitam sampai 3 warna,” sambung H.Abdullah lagi.
Ditambahkan juga bahwa menurut informasi yang didapat bahwa ada lagi amunisi Team JBM yakni Mutiara Sejati yang merupakan produk JBM sudah mengkoleksi juara sebanyak 39 kali. Prestasi itu dimulai sejak usia 2 bulan di Kelas Piyik Hanging sampai dewasa. Untuk itulah Kendawangan saat ini di parkir dulu untuk memenuhi permintaan.

Beberapa kung mania dan tokoh besar Aceh sudah masuk daftar antri dengan booingan dua pasang. Ada juga teman H.Supandi yang pernah beli Perubahan ring Cristal yang ditukar dengan kebun sawit seluas 2.5 hektar. “Kandwangan adalah burung kesayangan saya. Rencana akan diternak sampai 5 tetasan dulu. Keputusan itu disetujui oleh Abah Faisol,” ungkap H.Abdullah Mubarok lagi.
Perjuangan Kendawangan di arena konkurs dalam meraih juara selalu mendapatkan kawalan Bombom, Drs Robi Harman dan Ahmad Hidayat (Dayat). Mereka sempat meneteskan air mata tanda sebagai ungkapan rasa sedih karena ksetiap mengawal Kendawangan hampir 98 persen di tiap lomba selalu membawa piala juara 1.
“Adik saya yakni H.Abdulloh Mubarok Faisol sampai ngajak beli mobil Land Cruiser tahun 2022, seharga 2,2 M demi Kendawangan setelah dapat nilai 4 warna. Kami beli mobil dengan nopol N 1 JBM tanpa sepengetahuan Abah Faisol. Ternyata setelah tahu, Abah marah karena mending uang tersebut dibelikan kebun sawit karena lebih mantap,” jelas Drs.Robi Harman. Kenangan itulah yang membuat mereka sedih ketika Kendawangan kini tidak lagi turun lomba.















