Liga Perkutut Madura 2025 tergelar sebanyak 9 putaran. Tiap-tiap Pengda mendapatkan dua kali jatah penyelenggaraan. Kecuali Pengda Bangkalan yang diserahi untuk menggelar kegiatan dengan jumlah 3 kali. Secara keseluruhan, Liga Perkutut Madura dinyatakan sukses tanpa ada kendala yang menggangu jalannya even.

Yang patut dibanggakan dari agenda tersebut adalah faktor kemandirian yang sudah mulai tercapai. “Alhamdulillah Liga Perkutut Madura sudah bisa mandiri,” tegas Ir.H.R.Moch Mahmud Ketua Pengda Bangkalan. Lebih lanjut disampaikan bahwa kemandirian yang dimaksud adalah, pertama : mandiri dalam hal peserta.

Dari catatan perjalanan liga, mayoritas peserta yang memadati setiap penyelenggaraan berasal dari Madura. Kalaupun ada peserta dari luar, prosentasenya terbilang kecil. Setiap kegiatan, rata-rata peserta yang bisa didatangkan oleh penyelenggara berjumlah sekitar 12 blok dari semua kelas yang dilombakan (Dewasa Senior, Dewasa Yunior, Piyik Bebas, Piyik Yunior dan Piyik Hanging).

Kedua, mandiri dalam hal juri dan perekap. Dari dua belas sampai 13 blok peserta yang selalu berhasil dihadirkan penyelenggara, panitia mampu mengundang juri dari masing-masing Pengda yang ada di Madura. Artinya bahwa kebutuhan untuk menjadi juru vonis dalam setiap liga, bisa diatasi oleh juri dari Madura.

Begitu juga dengan perekap yang tidak perlu mendatangkan dari luar. Madura masih sanggup memenuhi kebutuhan petugas rekap dalam setiap penyelenggaraan. Ketiga, mandiri untuk jadwal lomba. Gelaran liga dalam setahun biasanya sudah teragendakan. Jadwal tersebut memang menyesuaikan dengan agenda nasional yakni Liga Perkutut Indonesia yang memang tidak boleh diadakan bersamaan dengan jadwal lain.

Keempat, kelengkapan lomba mandiri. Dari seluruh rangkaian kegiatan liga, penyelenggara mampu memenuhi kebutuhan lomba secara mandiri. Setiap Pengda tidak perlu mendatangkan kelengkapan dari luar kota. Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep, memiliki sarana dan prasarana untuk lomba, sehingga tidak perlu repot-repot untuk memenuhi dari luar.
Meski bisa dikatakan mandiri, namun bukan berarti tidak ada tugas lain yang harus dilakukan. Menurut Ir.H.R.Moch Mahmud ada beberapa poin yang harus tetap menjadi perhatian sekaligus tugas bersama yakni peserta masih harus terus di edukasi agar menjadi peserta yang sabrun dan profesional. Juri juga harus terus digembleng agar lebih profesional lagi.

Peternak Madura juga harus mulai ditingkatkan kualitasnya agar bisa menjadi tuan rumah di daerahnya sendiri. Hal penting lain adalah perlu evaluasi dampak dari semakin intensifnya kegiatan lomba terhadap ekonomi dan kesejahteraan kung mania di Madura. “Perlu dievaluasi semua stakeholder lomba.

Jangan sampai tidak ada dampak positif terutama dari sisi ekonomi kerakyatan atau bahkan lomba hanya euforia belaka dan merugikan bagi kung mania khususnya panitia,” sambung Wakil Ketua Bidang Penjurian P3SI Pusat. Kepedulian peternak sangat diharapkan untuk mendukung sukses kegiatan Liga Perkutut Madura.

“Masih banyak peternak yang kurang peduli terhadap keberlanjutan Liga Perkutut Madura, padahal gelaran ini sudah banyak memberikan kontribusi kepada peternak yakni semakin berarti permintaan pasar terhadap burung lomba,” ungkap pemilik CTP Bird Farm Bangkalan. Misalkan peternak yang ada di Madura bisa berkontribusi Rp 500.000 pertahun.

Jika dikalikan sebanyak 500 peternakz maka akan terkumpul dana sebesar Rp 250 juta. Dana ini bisa menutupi kerugian panitia Liga Perkutut Madura selama 9 putaran. Andai rencana ini bisa berjalan, maka Madura akn benar-benar mandiri. Dan yang pasti program besar Madura sebagai Sentra Perkutut Nasional akan bisa terealisasi.














