Paguyuban Melati yang berada di Pangarangan Sumenep tidak ingin hanya sekedar menjadi wadah bagi anggota untuk menyalurkan hobi perkututnya dan menjadi ajang silaturrahmi semata, tanpa ada hasil lebih yang didapat. Perkembangan hobi perkutut yang mengalami peningkatan, menuntut setiap kung mania harus membekali diri dengan ilmu dan pengetahuan seputar hobi.

Sehingga apa yang mereka tekuni, benar-benar dipahami dan tidak sampai menimbulkan penafsiran lain. “Saya ingin agar anggota Paguyuban Melati mulai meningkatkan pemahaman tentang burung kualitas lomba, sehingga keberadaan paguyuban memberikan manfaat lebih,” terang R.Edy Suyanto pimpinan Paguyuban Melati.
Untuk itulah dilakukan program kerek burung yang dilaksanakan pada Minggu, 07 Desember 2025. Menempati lokasi di lapangan milik paguyuban yang berada di Pangarangan Sumenep. Dalam kegiatan ini, ada dua kelas yakni Kelas Piyik Bebas dan Piyik Hanging yang diberikan kesempatan bagi anggota untuk menentukan mana yang akan dipilih.
Setiap anggota boleh menurunkan burung orbitannya di dua kelas sekaligus. R.Edy Suyanto berharap agar seluruh anggota hadir karena kegiatan ini sangat bermanfaat. Program tersebut benar-benar akan memberikan pemahaman tentang kualitas burung lomba karena kegiatan ini tidak sekedar kerek bareng, tetapi menghadirkan juri.

Penilaian tentu saja disesuaikan dengan sistem penjurian yang selama ini dipakai dalam setiap kegiatan P3SI di Indonesia yakni sesuai dengan AD/ART dan Pakta Integritas. Juri akan menilai semua burung yang ada di atas kerekan dan juga akan menentukan nilai dari burung yang akan masuk nominasi.
“Format acara adalah sama dengan lomba, namun untuk kali ini tidak ada nama pemenang, namun juri akan tetap menilai semua burung yang ada, sehingga mereka tahu nilai burung miliknya,” ungkap tokoh perkutut Sumenep. Proses penjurian tidak akan dilakukan selama empat babak, namun cukup dua babak saja.
Setelah dua babak penjurian berakhir, bukan berarti kegiatan juga akan selesai, juri dan seluruh peserta, termasuk juga panitia duduk bareng. Peserta diberikan kesempatan untuk bertanya tentang hasil penilaian burung miliknya dan juri diperkenankan untuk memberikan jawaban sesuai dengan apa yang didengar.

Misalnya kenapa burung yang dikerek pada nomor sekian, hanya mendapatkan nilai dua warna atau dua warna hitam. Apa yang menjadi kekurangan dari burung tersebut. Nah, disitulah juri akan memberikan jawaban gamblang dan bisa diterima dengah mudah oleh pemilik burung yang dimaksudkan.
Kesempatan ini harus dimanfaatkan betul oleh peserta dalam hal ini anggota untuk bertanya sampai merasa puas. Diharapkan pasca kegiatan tersebut, anggota Paguyuban Melati semakin paham tentang kualitas burung miliknya, sehingga nanti ketika berlomba ke keluar, mereka tidak ngotot untuk meminta nilai lebih.
“Terus terang saya malu ketika ada anggota Paguyuban Melati yang belum paham soal kualitas burung miliknya, tetapi ngotot minta nilai naik. Makanya saya berusaha untuk melakukan aksi ini,” sambung kung mania yang akrab dipanggil Gus Eek. Dalam kegiatan ini nanti, setiap peserta tidak akan dipungut biaya alias gratis.
Sedangkan untuk juri yang bertugas, akan tetap mendapatkan honor, sesuai dengan kesepakatan bersama. Untuk seluruh pembiayaan akan diambilkan kas paguyuban. “Selama ini anggota ditarik iuran, nah saat ini mereka tidak akan dipungut biaya pendaftaran. Saatnya memberikan timbal balik bagi anggota. Kas Paguyuban bisa dipakai untuk kegiatan ini,” sambung Gus Eek lagi.














