Dunia hobi perkutut yang kabarnya masih menjadi sebuah misteri, ternyata memang benar adanya. Cerita yang seringkali tidak masuk akal namun nyata adanya, semakin memperjelas hal tersebut. Karena misteri inilah, maka tak ada yang bisa memprediksi, kapan mereka bisa sukses dalam menekuni hobi. Butuh waktu lama atau sebaliknya.

Wijaya Adi king mania asal Martapura Kalimantan Selatan, bisa menjadi sebuah referensi bahwa hobi perkutut kadang sulit di nalar akal sehat. Betapa tidak, meski menyandang sebagai pendatang baru, namun popularitasnya mampu melebihi senior. “Saya baru enam bulan resmi menekuni hobi, Alhamdulillah hasil yang saya dapat menggembirakan dan membuat saya semakin senang menekuni hobi perkutut,” terang Wijaya Adi.
Rentang waktu yang begitu singkat, ternyata tidak sedikit hasil yang didapat selama aktif turun lomba. Prestasi demi prestasi berhasil dibukukan dengan hasil memuaskan. Prestasi teranyar berhasil dibukukan dalam tarung di Liga Perkutut Kalimantan Selatan Putaran 7 yang dihelat Pengda P3SI Banjarmasin, pada Minggu 26 Oktober 2025 lalu.
Wijaya Adi sukses membawa pulang trophy juara sebanyak empat buah di berbagai kelas. Hal itu didapat setelah beberapa orbitanya mampu menebus podium juara di podium pertama Kelas Dewasa Senior lewat aksi cantik Layar produk Lubis yang berhasil meraih juara 1 Dewasa Senior.

Ada juga Wata Tita produk Robani yang sukses menembus posisi ketiga Kelas Dewasa Yunior dan Putra Banjar yang berhasil lolos dipodium pertama Kelas Piyik Hanging sertana Banjarbanar, ternakan Sumo yang ada di urutan ke sepuluh pada Kelas yang sama. Keberhasilan ini bukan untuk pertama kalinya.
“Kalau lomba di Kalimantan Selatan, terutama di Banjarmasin dan Banjarbaru, saya sering kali bisa dapat juara, hampir di semua kelas yakni Dewasa Senior, Dewasa Yunior dan Piyik Hanging,” sambung Wijaya Adi. Setiap kali turun lomba, Adi berusaha membawa amunisi dalam jumlah besar yakni antara 7 sampai 9 ekor burung.
Dari jumlah tersebut, hampir 85 persen sang orbitan mengakhiri penjurian dengan hasil sebagai pemenang. “Saya kalau lagi lomba, seringkali bawa burung dalam jumlah antara 7 sampai 9 ekor, menyesuaikan dengan kendaraan yang saya bawa. Andai bawa kendaraan lebih besar, maka jumlahnya juga akan bertambah,” jelas Wijaya Adi lagi.

Keberhasilan membawa pulang trophy juara dalam jumlah besar, memang terasa tidak masuk akal, apalagi sebagai pendatang baru. Namun itulah fakta yang terjadi. “Saya kadang juga bingung karena bisa meraih juara, padahal saya orang baru,” katanya lagi. Wijaya Adi mengaku tidak memiliki ramuan dan rawatan khusus saat akan turun lomba.
“Selama ini saya pakai perawatan yang saya lakukan selama menekuni hobi burung berkicau, saya aplikasikan ke perkutut, memang banyak orang bingung, tapi itulah adanya,” ungkap mantan mania burung berkicau. Dengan model rawatan seperti itu, Adi mengaku memperlakukan semua perkutut dengan satu pola rawatan.
Alasan kuat melakukan pola rawatan ala burung berkicau pada perkutut orbitanya, karena faktor ketidak pahaman, juga waktu yang dimiliki tidak banyak. Rutinitas pekerjaan yang dimulai sejak pagi hingga malam, tidak banyak waktu untuk selalu berada di hadapan sang orbitan. Semua menu pakan dan perlakuan untuk sang orbitan, dikondisikan sama.

Adi mengaku melakukan proses pantau atas hasil yang didapat dalam memoles calon orbitan setiap Minggu, saat berada di rumah. Jika, ada burung yang dirasa mengalami peningkatan performa, maka akan mempertahankan pola tersebut. Sebaliknya jika tidak ada perubahan, maka menu dan rawatan akan mengalami perubahan.
Otak atik pola rawatan, baik menu ataupun perlakuan, menjadi daftar kegiatan didapat berada di rumah. Dengan cara yang dinilai tidak wajar dan tidak masuk akal, namun Wijaya Adi berhasil meraih kemenangan di setiap lomba yang diikuti. Disampaikan juga bahwa pengalaman saat membawa 9 ekor burung, ternyata 7 ekor mendapatkan trophy juara.
Menjadi seorang kung mania, sebenarnya tidak pernah terbersit dalam pikirannya. Ketika itu Adi mengaku selalu diajak sang kakak yakni Agus Pranajaya, Pangkalanbun Kalimantan Tengah saat menjuri. Wijaya Adi dapat tugas mengerak burung. Awalnya memang tidak bisa cara mengerek, namun saat itu melihat bagaimana peserta lain melakukan hal demikian.

Wijaya Adi juga mengaku seringkali diajak sang kakak berburu calon amunisi ke berbagai peternak. Dari sana ia semakin rutin mendengarkan suara perkutut. Sampai pada suatu ketika, saat berlomba, burung milik sang kakak tidak mau tampil. Dari sana, Adi mengutarakan niat untuk membawa burung tersebut untuk dirawat.
Siapa sangka, meski butuh waktu tidak sebenatar, akhirnya burung tersebut moncer lewat tangan dingin Wijaya Adi. Sang kakak semapt kaget, bingung dan tidak percaya, namun itulah kenyataan yang terjadi. Sejak saat itu, ada keingian kuat dalam diri Wijaya Adi untuk masuk menjadi bagian dari komunitas hobi perkutut.














