Sang orbitan manggung di arena saat menghadapi lawan dalam rangka tarung di atas tiang kerekan ataupun gantangan, menjadi harapan setiap kung mania. Karena dengan demikian satu poin sudah berhasil didapat untuk mendukung peluang menembus barisan juara dalam daftar pemenang.

Manggung bagi sang orbitan adalah hal yang bisa dikatakan tidak mudah untuk dikondisikan. Dengan berbagai alasan, kadang sang orbitan tidak mau manggung dan tidak jarang pula lebih banyak diam. Berbagai upaya pasti sudah dilakukan sang mekanik untuk mengkondisikan agar rawatannya bisa bersuara, guna lolos sebagai pemenang.
Ada persolan yang dihadapi kung mania, ketika mengawal sang orbitan di medan perang, salah satunya sang orbitan bunyi, namun tidak dalam posisi di atas tangkringan/pangkringan, tetapi di bawah. Jika itu terjadi, maka menjadi masalah karena belum tentu terpantau oleh juri dengan alasan tidak terlihat.

Tikno, kung mania asal Parsanga Sumenep mengakui bahwa ketika burung mengeluarkan bunyi tapi bukan di atas pangkringan, maka itu menjadi kurang bagus. “Ada kalanya burung bunyi, tapi tidak di atas pangkringan, hal itu sangat merugikan karena burung tidak bisa terpantau oleh juri, sehingga peluang untuk mendapatkan nilai, bisa sulit di dapat,” terang pemilik perkutut berprestasi bernama Profesor.
Jika hal itu terjadi, maka menjadi sesuatu yang merugikan, karena burung tidak akan terpantau dengan jelas dan nilai pasti tidak bisa di dapat. Berdasarkan pengalaman Tikno, akhirnya ia menemukan satu cara atau trik jitu untuk menghilangkan kebiasaan kurang bagus tersebut.

“Saya pernah mengalami hal demikian, akhirnya ada info yang saya dapat untuk mengakhiri masalah itu. Setelah saya coba, hasilnya memang bermanfaat,” sambung pria yang punya nama asli Sutrisno. Cara yang dilakukan adalah membiasakan burung di jemur dengan kondisi sangkar miring.
Sekilas cara itu memang dinilai sederhana, namun setelah menjalani “masa training”, ternyata hasilnya menggembirakan. Perkutut yang pernah bermasalah dengan bunyi di bawah, bisa teratasi. Menurut Tikno, proses penjemuran dilakukan setiap hari, sampai burung menghilangkan kebiasaan manggung di bawah, berakhir.

Waktu penjemuran menyesuaikan seperti proses penjemuran seperti biasanya. Jika selama ini burung terbiasa di jemur dengan rentang waktu lama, maka lakukan cara demikian. Begitu sebaliknya. Dijelaskan juga manfaat bahwa penjemuran dengan cara memiringkan posisi sangkar, tidak hanya berdampak pada perubahan kebiasaan burung manggung di bawah, tetapi ada manfaat lain.
“Burung perkutut yang terbiasa di jemur dengan cara miring, selain bisa menghilangkan manggung di bawah, juga bisa menambah power dari burung itu sendiri,” ungkap pemilik Teknos Bird Farm Parsanga Sumenep.

Cara inilah yang selama ini dilakukan, ketika menghadapi masalah pada burung manggung di bawah. Tidak ada salahnya jika dicoba, siapa tahu trik ini benar-benar jitu dan bisa membantu kung mania yang menghadapi masalah seperti yang pernah dialami Tikno. Semoga memberikan manfaat untuk semuanya.














