Banjarmasin Kalimantan Selatan saat ini memiliki frekuensi kegiatan lebih tinggi. Jika sebelumnya kung mania hanya disuguhkan gelaran satu bulan sekali, kini Banjarmasin bisa menggelar even dua minggu sekali. Kenyataan ini terlihat dari beberapa agenda yang sudah tergelar.

Seperti konkurs Liga Perkutut Kalimantan Selatan seri keenam yang digelar pada 21 September 2025. Dilanjutkan kemudian Latihan Dinilai yang dilaksanakan pada Minggu 12 Oktober 2025. Banjarmasin kembali diramaikan oleh even Liga Perkutut Kalimantan Selatan seri ketujuh yang dihelat pada 26 Oktober lalu.
Agenda selanjutnya yakni Latihan Dinilai yang rencana akan diadakan pada 09 November mendatang. Naiknya frekuensi kegiatan di Banjarmasin menjadi sebuah berita menggembirakan karena kung mania yang selama ini selalu merindukan konkurs, bisa menyalurkan hobinya.
“Mulai tahun 2025, Banjarmasin mulai banyak kegiatan, dari latihan dinilai sampai liga, kegiatan tersebut dilakukan bergantian, dua minggu latihan dinilai dan dua minggu berikutnya liga,” terang Agus Anjar Hukama, Ketua Pengda P3SI Banjarmasin. Naiknya frekuensi kegiatan ini diimbangi dengan munculnya pemain baru, sehingga setiap kali ada gelaran, peserta yang hadir sesuai dengan target peserta.

“Alhamdulillah selama ini peserta untuk kegiatan Latihan Dinilai dan Liga, jumlahnya lumayan,” sambung Agus Anjar. Disampaikan juga bahwa dukungan yang besar kung mania terhadap setiap kegiatan, memang sudah dirasakan. Setiap kali diadakan latihan tiap Minggu, peserta yang hadir bisa mencapai angka 1 blok lebih.
Kondisi tersebut jelas menjadi indikasi bahwa antusias kung mania untuk mendukung semarak hobi, masih teap tinggi. Diantara Pengda yang ada di Kalimantan Selatan, Banjarmasin memang menjadi daerah yang lebih semarak, sehingga pelaksanaan acara cenderung berpusat di Banjarmasin.
Lapangan Perkutut Lembu Jantan Pekapuran Raya, lokasi aktifitas kung mania lebih banyak dikunjungi oleh peserta. Henny Sutanto, Ketua Bidang Lomba Pengwil P3SI Kalimantan Selatan mengakui bahwa untuk saat ini Banjarmasin memang menjadi Pengda yang rutin menggelar kegiatan lomba.

“Banjarmasin lebih banyak pemainnya, sehingga kegiatan lebih rutin disini. Sebenarnya daerah lain mendapatkan jatah untuk kegiatan, namun mereka khawatir, peserta tidak seramai di Banjarmasin,” ungkap Henny Sutanto. Padahal jika saja sebuah daerah memiliki frekuensi lomba lebih tinggi, maka akan berimbas pada transaksi burung.
“Kalau tidak ada lomba, maka mungkin ada yang cari burung, cari pakan dan kebutuhan lain untuk perkutut. Maka kalau lomba ramai, pasti burung banyak laku,” sambung pemilik Felix BF Banjarmasin. Tingginya frekuensi kegiatan memang menjadi harapan bersama. “Pengwil Kalimantan Selatan mendorong agar jangan sampai ada waktu kosong, jangan seperti dulu, kegiatan hanya satu bulan sekali bahkan bisa lebih,” tegas H.Winardi Sethiono Ketua Pengwil Kalimantan Selatan.
Untuk itulah Pengwil selalu berusaha melakukan cara agar kegiatan bisa tetap berlangsung. “Kami dorong terus agar ada kegiatan, karena jika sampai kembali ke satu bulan lagi, maka semangat teman-teman akan kembali dingin. Jika hal itu terjadi, maka akan sulit untuk menggerakkan mereka untuk kembali ke lapangan,” ungkap pemilik Win’s BF Banjarmasin.

Dikatakan pula bahwa semanagt mereka sering kali kendor dan itu sangat tidak diinginkan karena ketika sudah sampai pada fase tersebut, maka untuk memompa kembali, hal itu akan mengalami kesulitan. “Jika semanat sudah kendor, maka sulit untuk memompa, makanya sebelum mereka benar-benar kendor, Pengurus Pengwil berusaha untuk membuat semangat terus ada,” jelas H.Winardi Sethiono lagi.
Diakui bahwa Banjarmasin saat ini memiliki jumlah penggemar lebih banyak, sehingga setiap kegiatan disana, selalu dipadati peserta. Namun, ke depan daerah lain seperti Banjarbaru, Kandangan dan Barabai bisa mengalami perkembangan yang luar bissa, sehingga bisa mendukung semarak hobi yang ada di Kalimantan Selatan.
Upaya tersebut mulai dilakukan. Menurut H.Winardi Sethino, upaya yang dilakukan agar hobi perkutut dissetiap daerah bisa semarak, maka fari play menjadi sebuah keharusan yang tidak boleh ditunda dan dilepaskan. Selain itu mengemas kegiatan yang membuat peserta selalu ingin hadir ke arena lomba.

Disampaikan juga bahwa awalnya ada kekhawatiran rugi ketika menggelar kegiatan. “Saya sempat dengan kata rugi saat menjadi penyelenggara, namun saya sampaikan bahwa harus ada subsidi silang, artinya ketika ada sebuah gelaran yang rugi, maka nanti jika ada yang untung, maka bisa disubsidi pada yang rugi,” papar H.Winardi Sethiono.
Diharapkan dengan pendekatan ini maka akan muncul semangat untuk terus eksis menekuni hobi. Saat ini ada beberapa daerah yang sudah mulai bergerak seperti Tapin Rantau yang sudah memiliki 2 blok dan rencana juga akan mengadakan lomba.














