Tahun 2025 akan segera berakhir, begitu pula dengan kegiatan konkurs tanah air. Fokus kung mania saat ini adalah mempersiapkan pertarungan yang akan dimulai pada 2026. Prediksi mengatakan bahwa hobi perkutut tahun depan akan mengalami lonjakan luar biasa. Demikian pula yang akan terjadi di luar pulau Jawa, salah satunya Kalimantan Selatan.

Semarak hobi sepertinya akan menunjukkan ritme yang semakin meningkat. Indikator yang memperkuat analisa tersebut adalah mulai masuknya perkutut dengan kualitas bagus dari Pulau Jawa. Satu dia ntara sekian kung mania yang membuat greget hobi perkutut di Kalimantan Selatan adalah H.Jay Binuang.
Informasinya beberapa amunisi yang selama ini berkiprah di Pulau Jawa, mulai ditarik ke Kalimantan Selatan. Sebut saja Golden Star perkutut bergelang TLT, Adik Putra Kadur ring Atlas, CRV ternakan Holly, Hercules produk PA dan beberapa nama lain. Bahkan Bangkit Kembali, ternakan Irama juga turut serta dalam rombongan menuju Kalimantan Selatan.
“Burung Pak Haji Jay yang ada di Jawa, beberapa sudah dikirim ke Kalimantan Selatan, termasuk Bangkit Kembali yang rencananya bakal jadi indukan,” terang Rudy Supriyadi Banjarbaru. Amunisi tersebut diproyeksikan untuk tarung di Kelas Dewasa Senior dan Dewasa Yunior dalam gelaran di Kalimantan Selatan.

Namun tidak menutup kemungkinan, deretan amunisi lain milik H.Jay juga akan menyusul. Menurut Rudy Supriyadi semua tergantung dari keputusan sang Bos. “Kalau H.Jay minta semua burung jawara yang masih ada di Jawa untuk dikirim ke Kalimantan, maka akan segera direalisasikan,” sambung mantan Ketua P3SI Pengda Banjarbaru.
Kehadiran amunisi handal dengan bandrol selangit ini, tentunya akan menjadi kabar yang harus mendapatkan perhatian penuh dari kung mania setempat. Bukan tidak mungkin keikutsertaan perkutut jawara ini akan menjadi penghalang bagi jawara setempat untuk menguasai podium di barisan paling depan daftar kejuaraan.
Jika hal itu sampai terjadi, maka ini akan menjadi ancaman berat. Kung mania Kalimantan Selatan sendiri mengaku tidak akan tinggal diam dengan kondisi demikian. Zairin, kung mania Banjarmasin mengaku sudah melakukan langkah demi meraih hasil bagus. Mendatangkan indukan berkualitas dari Jawa adalah aksi nyata yang sudah dilakukan.

“Saya ingin kualitas perkutut peternak di Kalimantan bisa lebih bagus lagi, makanya saya melakukan langkah berani dengan mendatangkan indukan bagus dari Jawa,” terang pemilik Nabawi Bird Farm. Lebih lanjut disampaikan bahwa indukan yang dimaksud adalah materi yang membawa gen yang sudah terbukti dan teruji, seperti trah Ababil Sampang,
Domisol Bangkalan, R.Anjani Jombang, MPG Sampang, Jimat Jawa Barat, Atlas Semarang, Terminal Perkutut Surabaya (trah Gajah Mada). Kehadiran indukan dari trah berkualitas ini diharapkan bisa meningkatkan mutu dan kualitas hasil ternakan Nabawi. Bahkan jika cara itu dianggap kurang efektif, Zairin mengaku akan menarik juga amunisi miliknya yang saat ini ada di Pulau Madura.
“Saya sebenarnya punya jago yang saya titipkan ke teman yaitu Mas Apung Team Genius Pamekasan dan Mas abu Ali Domisol Bangkalan. Setiap saat burung tersebut bisa saya minta kirim ke Banjarmasin untuk meramaikan perebutan podium juara,” ungkap Zairin. Henny Sutanto Banjarmasin mengaku siap dengan kondisi yang akan terjadi.

Sebagai salah satu farm yang sukses mencetak sekaligus mengorbitkan burung jawara, Henny Sutanto terus berusaha melakukan langkah dalam meningkatkan mutu dan kualitas. Seperti yang lain, Henny Sutanto juga sudah menambah materi kandang dari farm di Jawa, salah satunya Grand Master Surabaya.
“Saya ada burung untuk indukan dari Grand Surabaya, semoga bisa menambah kualitas anakan,” harap pemilik Felix Bird Farm. H.Awir Banjarmasin mengaku bahwa persiapan menghadapi semarak hobi Perkutut di Banjarmasin dan sekitarnya untuk tahun 2026 mendatang sudah dilakukan.
“Sebenarnya secara kualitas, produk terbaik saya sudah mumpuni, namun di tahun 2025 belum berhasil membuat prestasi karena burung tidak mau tampil maksimal,” jelas pemilik Rizky Bird Farm. Burung kurang rajin bunyi, menjadi persoalan yang masih dialami. Kendala itu bisa saja dari faktor rawatan yang kurang pas atau juga bisa karena usia burung.

Menurut pengakuan H Awir, biasanya burung produk Rizky mau tampil pada usia sekitar 10 bulan ke atas. Sementara saat ini usia burung masih ada dibawah angka tersebut. “Kalau soal kualitas, saya tidak khawatir, apalagi pengalaman pernah lomba ke tanah Jawa menjadi pelajaran yang sangat berharga, sehingga saya tahu dan paham kualitas burung yang harus dimainkan,” papar H.Awir.
Artinya pula bahwa untuk lomba level nasional, H.Awir mengaku paham betul karena pernah membawa piala saat berlomba. “Saya yakin produk Rizky masih bisa berbicara di even Kalimantan Selatan atau juga even nasional tinggal nunggu waktu yang pas,” tambah H.Awir lagi. Saat ini ada sekitar 10 ekor burung yang dipersiapkan untuk konkurs 2026.
Jumlah tersebut bisa berubah andai laku ke kung mania. Agus Pranajaya kung mania Pangkalanbun Kalimantan Tengah mengaku bahwa siap menghadapi pertarungan perebutan podium juara. “Secara materi indukan, saya sudah siap mencetak burung berkualitas, namun hasil tetap saya serahkan sama sang pencipta alam semesta,* jelas pemilik Rabbani Bird Farm Pangkalanbun Kalimantan Tengah.

Selama ini Agus Pranajaya dikenal sebagai peternak yang berani menjebol kandang peternak lain, baik di Kalimantan ataupun di Pulau Jawa. Beberapa produk untuk calon jawara juga sudah masuk daftar. “In syaa Allah untuk tahun 2026 saya akan lebih fokus ke kandang dan juga turun lomba, soal materi indukan dan calon jumawara sudah saya datangkan dari Jawa, tinggal menunggu waktunya saja,” ungkap Agus Pranajaya.
Heri Jaya Banjarmasin mengatakan bahwa sudah saatnya peternak lebih selektif dalam memilih indukan sehingga hasil yang didapat sesuai harapan. “Burung-burung milik H.Reyhan Binuang adala burung berkualitas yang sudah terbukti di Pulau Jawa, saat ini ada beberapa yang dibawa ke Banjarmasin. Kualitasnya memang di atas rata-rata,” kata pemilik Leon Bird Farm.
Untuk itulah harus ada upaya dari peternak, termasuk Leon untuk menambah indukan yang lebih baik lagi agar hasil yang didapat juga mengalami peningkatan. “Saya memang ada rencana untuk tambah materi indukan yang lebih bagus, agar bisa memenuhi kebutuhan,” ucap Heri Jaya. Sementara itu, H.Winardi Sethiono berharap hobi perkutut untuk tahun 2026 akan lebih semarak dan diikuti oleh peningkatan kualitas hasil anakan.

“Saya berharap agar 2026 hobi perkutut di Kalimantan Selatan bisa lebih semarak, lebih guyub dan rukun serta bersama-sama berkompetisi di dalam lapangan dengan mengedepankan AD/ART dan Pakta Integritas,” papar pemilik Win’s Bird Farm. Lebih lanjut disampaikan bahwa penilai burung tidak hanya didasarkan pada kegacora, tetapi juga kualitas yang sesuai dengan aturan.
Untuk itulah korps juri diharapkan juga bisa memahami aturan yang ada sehingga dalam memberikan penilaian bisa fair play. Disampaikan juga bahwa semarak hobi perkutut di Kalimantan Selatan tahun 2026 akan lebih terasa dengan akan hadirnya dua Pengda yakni Rantau dan Tanah Bumbu Batu Licin. Dengan peningkatan yang bisa diraih maka nantinya tidak hanya Madura saja yang bisa menjadi sentra perkutut nasional, Kalimantan Selatan kalau bisa meraih hal yang sama.














