Putra Kadur sukses mendongkrak popularitas Atlas Bird Farm Semarang lebih tinggi lagi. Kemunculan Putra Kadur seakan melengkapi deretan perkutut bergelang Atlas dengan prestasi apik yang pernah orbit sebelumnya seperti Legendaris. Keduanya menjadi pembuktian yang tidak bisa terbantahkan lagi bahwa Atlas adalah peternak yang berhasil melahirkan produk unggulan pada level yang berada di atas.

“Saya bersyukur atas prestasi perkutut ternakan Atlas yang berhasil menjadi juara di arena konkurs tingkat nasional seperti LPI,” terang Henryarto pemilik Atlas. Lebih lanjut disampaikan bahwa ini menjadi penyemangat dna motivasi untuk terus eksis dan berkiprah di dunia hobi terutama untuk bidang pengembangan ternak.
Atlas Bird Farm menjadi satu diantara sekian peternak unggulan yang mampu meramaikan persaingan perebutan podium dalam daftar kejuaraan. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa kehadiran produk bergelang Atlas menjadikan dunia hobi terutama konkurs semakin meriah. Prestasi inipun tidak lantas membuat Henryarto merasa puas diri.
Sebaliknya sukses ini seakan menjadi tantangan yang lebih berat, bagaimana bisa mempertahankan apa yang sudah didapat bahkan kalau bisa lebih meningkat lagi. Pengembangan kandang terus dilakukan untuk bisa menghasilkan kembali produk buruan kung mania, tentunya dengan kualitas yang lebih baik dan bagus lagi.

Menjelang bergulirnya konkurs tahun 2026, Atlas mengaku sudah mempersiapkan amunisi yang akan diorbitkan di konkurs nasional. “Atlas saat ini sudah menyiapkan amunisi untuk diorbitkan baik untuk pribadi ataupun pelomba,” sambung Henryarto. Upaya pengembangan sudah jauh-jauh dilakukan.
Trah-trah terbaik yang dimiliki Atlas menjadi titik fokus pengembangan kandang ternak. Sampai akhirnya muncul beberapa kandang yang sudah terpantau masuk dalam kategori lolos seleksi. “Ada beberapa kandang yang sudah melahirkan anakan dan selama proses pantau dilakukan, menunjukkan trend positif dan bisa dijadikan modal untuk terus eksis di arena konkurs,” sambung kung mania yang akrab dipanggil Henry.
Adapun kandang yang dimaksud adalah Atlas 333, Atlas 111, Atlas PPP, Atlas Lamborghini, Atlas 333 A, Atlas 333 D, Atlas 333 B, Atlas 333 C, Atlas 333 F, Atlas 333 G dan kandang lain. Anakan dari kandang tersebut sudah terpantau dan dinyatakan lolos seleksi sebagai calon amunisi lapangan. Beberapa diantaranya sudah muncul di media sosial dan banyak yang mengapreasi.

Tidak sedikit pula yang menyatakan berminat untuk memilikinya. “Puji syukur respon dari teman-teman kung mania positif atas produk yang saya posting di media sosial. Ada diantara mereka yang berminat untuk take over,” ungkap Henry lagi. Yang tidak kalah penting bahwa Putra Kadur kini sudah kembali ke pangkuannya.
Perkutut handal yang sempat orbit bersama H.Hairul Tiga Bintang Pamekasan, juga akan diproyeksikan untuk melahirkan anakan yang levelnya berada di atas sang indukan. “Saat ini Putra Kadur saya jodohkan dengan betina baru yakni Atlas 111, karakter betina volume lebih besar dikit. Ini masih dalam proses produksi, tapi saya yakin,” ungkap Henry lagi.
Kenyakinan ini berdasarkan pengamatan yang dilakukan selama ini. Putra Kadur adalah produk Atlas sendiri, sedangkan betina yang dipakai adalah juga produk sendiri. Faktor inilah yang membuat Henry yakin karena paham betul kedua trah yang mengalir pada indukan tersebut. “Putra Kadur dan betina 111 adalah ternakan Atlas, jadi saya paham betul trahnya seperti apa, makanya saya yakin dengan apa yang dilakukan,” tambah Henry.
Disampaikan pula bahwa untuk indukan baru ini (Putra Kadur dan betina Atlas 111), memang difokuskan pengembangan di sektor peningkatan volume. Sedangkan untuk karakter suara depan, tengah dan ujung tidak di otak atik. “Untuk Putra Kadur dan betina baru, saya hanya fokuskan untuk meningkatkan volume, tapi hanya sedikit saja,” kata salah satu tokoh perkutut di Semarang.
Bahkan dari kedua indukan ini, ternyata banyak yang berminat untuk memilikinya. Bookingan sudah mengalir. Sampai obrolan dilakukan, Putra Kadur bersama betina barunya sudah mengantongi bookingan sebanyak 7 pemesan dengan bandrol Rp 40 juta. Meski proses booking tanpa pantau, namun Henryarto mengaku tetap memberikan pelayanan terbaik.

Jika ternyata produk yang dihasilkan kurang memuaskan, maka bisa dibatalkan dan ditunda pada produk selanjutnya. “Saya tidak ingin pembeli kecewa, makanya para pembooking, meski tanpa pantau, tetap mendapatkan hak untuk menolak jika ternyata tidak sesuai,” jelas Henry. Sebagai bentuk keseriusan dalam mengembangkan ternak, Atlas juga menambah materi indukan berkualitas.
“Saya ambil Pujangga Palem K U1 punya Prosper, saya beli juga Diktator punya Alonso Cirebon ring Grand BF. Burung ini akan saya kembangkan di Atlas bersama materi lain yang sudah saya siapkan,” papar Henry. Harapan dan keinginan Atlas Bird Farm adalah bisa kembali melahirkan produk unggulan, sehingga bisa menjadikan hobi perkutut lebih greget lagi.
Meski apa yang diharapakan adalah tidak mudah dan gampang, namun optimisme harus tetap tertanam dalam hati dan pikiran. Tantangan ke depan bahwa hobi perkutut dalam hal ini ternak, akan terus bersaing satu dengan yang lain untuk bisa menghadirkan produk yang mampu membuat semua puas dan bangga. “Saya harus tetap fokus untuk menekuni ternak perkutut yang bisa menghasilkan anakan bagus. Semoga produk Atlas ada yang bertengger lagi di daftar kejuaraan konkurs, baik regional apalagi nasional,” harapan Henryarto.














