Sukses tidaknya sebuah penyelenggaraan konkurs perkutut, salah satunya ditentukan oleh kinerja juri. Jika juri mampu menjalankan tugasnya dengan baik dan benar, maka panitia akan menuai sukses dari gelaran yang diselenggarakan. Sebaliknya demikian. Maka dari itu, juri memiliki peran penting dan vital dalam sebuah konkurs perkutut.

Kondisi demikan kadang menjadi sebuah tantangan bagi penyelengara bagaimana memastikan bahwa juri mampu menjalankan tugasnya dengan baik dan benar sesuai dengan aturan yang sudah ada. Menurut H.Sularno, Kesejahteraan dan martabat juri akan menjadi factor yang sangat krusial dalam sebuah even perkutut.
Untuk itulah organisasi harus bias menciptakan juri yang benar-benar bisa diandalkan. “Juri yang dihargai secara layak, cenderung lebih sulit untuk disuap,” terang H.Sularno. Maka dari itu, perlu dilakukan langkah konkrit untuk bias mewujudkan semua itu. Ada beberapa poin yang bisa dilakukan untuk bisa menjadikan juri lebih professional.

Pertama, Fee Profesional yang Layak. Pastikan honor juri mencukupi sehingga mereka tidak merasa “butuh” tambahan uang dari peserta. Kedua, Asuransi Hukum dan Perlindungan. Organisasi harus menjamin keamanan juri dari intimidasi peserta. Jika juri merasa dilindungi oleh organisasi, mereka akan lebih berani bertindak jujur meskipun ditekan oleh “orang kuat” Faktor yang tidak kalah penting dalam menciptakan juri yang profesional dan berintegritas adalah Sanksi Sosial dan Profesional (The Blacklist).
Integritas harus memiliki konsekuensi yang nyata dan sangat berat, yang meliputi Sanksi Bertingkat, Pelanggaran Ringan berupa teguran dan pembinaan ulang Pelanggaran Sedang berupa skorsing tidak boleh menjuri selama 6 bulan dan Pelanggaran Berat (Suap) yaitu pemecatan tidak hormat, pencabutan lisensi seumur hidup, dan namanya diumumkan di media sosial/komunitas sebagai Blacklist Nasional.

Efek Jera, dengan cara publikasi sanksi adalah cara paling ampuh untuk menjaga integritas juri lainnya. Langkah yang tidak kalah penting untuk dilakukan dalam menyikapi kondisi demikian adalah dengan Pelatihan Mental dan Spiritual (Psychological Anchoring). Menurut H.Sularno, secara berkala, juri perlu “disentuh” sisi kemanusiaannya.
Langkah yang bisa dilakukan adalan dengan agenda Sesi Refleksi: Mengadakan pertemuan rutin yang membahas dampak kecurangan juri terhadap hobi perkutut secara keseluruhan (misal: hancurnya harga burung, hilangnya kepercayaan peternak, dan matinya ekonomi kreatif perkutut).

Serta Pemberian Penghargaan (Referee of the Year) yakni memberikan penghargaan bagi juri dengan integritas terbaik berdasarkan survei kepuasan peserta secara anonim. Ini menciptakan kebanggaan dalam bersikap jujur.
Menghadapi protes keras adalah ujian sesungguhnya bagi integritas seorang juri. Jika juri langsung goyah dan mengubah nilai karena ditekan, maka kredibilitas lomba runtuh. Namun, jika juri terlalu kaku tanpa penjelasan, juri akan dianggap arogan.







































